Ida Widyastuti : Ratu Snack Jawa Timur

Sukses Ida tentu saja bukan gratisan. Meski bisnis snack ditemukannya tanpa sengaja, membesarkannya memerlukan kerja keras.

Ida Widyastuti : Rejeki Pisang Yang Terbuang

Hanya dengan Rp 600 ribu, Ida memulai usahanya dengan menjajakan emping dari pasar ke pasar.

Tampilkan postingan dengan label SPECIAL. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SPECIAL. Tampilkan semua postingan

Rabu, 31 Desember 2014

BERSYUKUR ITU....

Hari ini 31 Desember 2014....Penghujung tahun...yang seharian aku habiskan dengan bekerja sambil "merenung", refleksi diri. Berusaha memahami dan berlatih mengasah rasa syukur. Seminggu ini ada beberapa kejadian yg kualami.
Hari itu ketika sedang belanja di pasar tiba2 datang seorang laki2 tua kurus kering berdiri persis di luar pintu jendela mobilku. Dia tdk berkata apa2, hanya diam dan menatapku tajam. Aku seperti tersihir dibuatnya. Wajahnya yg keriput itu sungguh menawan, damai dan ...ah..entahlah aku tidak bisa mendifinisikannya. Dengan reflex aku buka kaca jendelaku dan aku ambil sejumlah uang yang lebih dari biasanya, lalu aku berikan pada Beliau beserta sebotol air mineral. Tiba2 sebegitunya doa itu meluncur dari bibir tipis Beliau yang aku sendiri tak paham maknanya. Di akhir doa Beliau menepuk pundakku sebelah kanan dan berkata...."semoga anak2mu nanti jadi anak yang berderajat dan bermartabat"....lalu Beliau meninggalkanku yang masih tertegun menatapnya. Akupun berucap lirih...."amiiiin".....sambil mengusapkan kedua tangan ke mukaku. Aku masih terdiam di dalam mobil hingga bbrp saat. Menarik nafas panjang dan menutup mataku, merasakan nikmatnya kata2 Beliau tadi.

Setelah belanja aku berjalan menuju mobil, tiba2 datang lagi seorang laki2 tua kurus hanya saja yang sekarang ini lebih tinggi. Diam dan hanya menatapku. Kembali aku berikan sejumlah uang yg menurutku cukup pantas . Lalu beliau menepuk pundakku yang sebelah kiri sambil berkata singkat...."semoga sampean selalu diberikan keselamatan dunia akherat".......kata Beliau lalu pergi. Akupun kembali berguman....."amiiiin". Kembali aku tertegun, diam sambil melihat ke arah Beliau berjalan. Cukup lama hingga tiba2 seseorang memintaku agak minggir sambil bertanya...."ngapain di tengah jalan Bu".....lhooooh....kok ternyata aku berdiri agak ke tengah jalan, padahal perasaanku tadi aku mau berjalan menuju mobil yang kuparkir di pinggir jalan. Aaaah.....entahlah.
Dua kejadian di pasar hari itu membuatku seperti melayang. Siapa mereka? Waktu habis menerima pemberianku Beliau2 bahkan tidak berucap "terima kasih" (aku sih tdk ingin diucapin terima kasih). Beliau juga tidak berucap Alhamdulillaah. Tiba2 langsung berdoa dan berlalu begitu saja meninggalkanku.

Sehari kemudian saya diketemukan dg seorang nenek tua renta yang sedang berjalan di trotoar jalan protokol di kotaku. Aku menghentikan mobilku. Kuambil beberapa lembar uang dan kuberikan pada Beliau. Seketika raut mukanya yg sudah berkeriput itu berubah. Sumringah sambil berucap....maturnuwun nduuuuk....mugo2 diparingi rejeki, sehat, waras.....alhamdulillaah  ya Allaah....(katanya sambil memegangi lenganku). Kulihat buliran bening menetes dari pinggir matanya yg sudah menyempit itu , entah mengapa seakan dibiarkannya menetes begitu saja. Tangan rentanya bahkan makin erat memegangi lenganku. Aah...si Mbah.

Di hari yang sama suamiku pulang dengan membawa 20 biji sapu ijuk. Aku sudah paham betul dengan apa yang terjadi. Pasti Beliau habis bertemu dengan seorang penjual sapu di jalan dan diborongnya semua dagangannya, tanpa pertimbangan, tanpa syarat. Hmmmm....kelihatan sekali dari senyumnya yg penuh arti itu. Nah...betul kan. Kebiasaan ini memang sering kami lakukan.

Seperti yg terjadi padaku beberapa hari lalu juga. Berpapasan dengan bapak tua penjual garam laut kasar. Dengan sigap 2 sak garam itupun berpindah ke mobilku. Hingga kini masih ada di rumahku. Aku melihat kegembiraan di mukanya. Cara bersyukurnya,  Ucapan syukur padaNya dan terima kasih padaku itu lhooo....sesuatu bangeet. Untuk apa yaa garamnya? Aaah....gak usah ditanya.

Sore inipun aksi memborong terompet tahun baru terjadi di depan rumahku. Aku tidak peduli apa kata orang tentang kemungkinan penyakit tertular dari ujung terompet yang sudah dicoba banyak orang. Apapun itu tak akan terjadi atas kuasaNya.  Kasihaaan....si bapak itu sudah keliling 2 hari dan belum laku semua. Sumringah wajahnya....semangat...syukur...terima kasih yg sederhana membuatku terkesima. Aah....Tuhan....caraMu menegurku begitu halus. Thanks a lot GOD....

04 Jan 2015......
Dua point penting aku dapatkan dari bbrp kasus diatas. Diantaranya cara bersyukur dan berterima kasih. Dua orang pertama tidak secara nyata mengungkapkan kata syukur dan terima kasih. Tapi aku bisa merasakan dari sinar matanya itu sudah cukup mewakili , bahkan lebih dalam dari kata yang terucap. Doanya yang terucap mempunyai kekuatan sugesti yang luar biasa. Sungguh itu.
Beberapa orang selanjutnya....syukur dan terima kasih terucap dari mulut beliau2 dengan sungguh2 diikuti olah tubuh yang membuatku trenyuh dan beberapa kali menelan ludah menahan haru. Sungguh...itu mengajarkanku sebuah etika yang indah. Etika bagaimana kita harus bersikap pada Tuhan dan pada sesama ketika kita menerima rejeki yang tak disangka2.
Memaknai kedua contoh diatas sebagai pribadi yang "tahu diri", itulah pesan dari pelajaran yang aku terima. Bagaimana kita harus bersikap pada Tuhan sebagai wujud rasa syukur. Tidak harus berteriak keras, tapi bisa juga dg mengucapkannya setajam mungkin di dalam hati kita lalu diikuti suatu tindakan nyata sbg manifestasinya. Apa itu? Menyalurkan kembali energi positif kita pada sesama makhluk di semesta. masuk ke dalam sebuah sistem alam, sunatullaah....agar kita bisa berperan aktif dalam tiap pengambilan "keputusan" penting dalam hidup kita.
Bagaimana kita harus  bersikap pada sesama makhluk yang sudah menjadi wasilah  bagi tersampainya rejeki pada kita. Apa2 yang kita terima semua melalui wasilah, perantara. Entah itu rejeki, ilmu, anak,  makanan, minuman, nafas, air, dll. Tak ada yang langsung tersampaikan pada kita. Rosulullaah Muhammad SAW juga menerima wahyu melalui perantara Jibril. Kita dihadirkan di bumi ini dengan wasilah orangtua kita, maka hormat dan berterima kasihlah pada mereka. Ilmu diwasilahkan melalui guru, maka hormat dan patuhlah pada guru.  Gaji kita diwasilahkan pada sebuah instansi atau perusahaan, maka jagalah mereka. Makanan, minuman,  udara kita nikmati melalui tanah dan angkasa sebagai wasilah. Maka hormat dan berterima kasihlah pada mereka dengan menjaga keseimbangan alam. Begitu tindak nyata seharusnya. Sayangnya pemahaman sederhana ini sudah mulai memudar. Lalu dimana peran kita? Jawaban ada di hati kita masing2.

Belajar ilmu hidup pada mereka yang di "embongan" kadang membuat malu kita untuk menceritakannya pada orang lain. Orang akan lebih bangga ketika merasa berguru pada seorang tokoh terkenal. Tak jarang sambil menepuk dada berkatanya. Bagus siih....boleh juga . Tak ada larangan. Tapi mari kita sisakan sedikit saja waktu kita untuk mendekati kaum "embongan". Banyak hal yang bisa kita pelajari. Ilmu hidup yang kadang tdk kita dapatkan di bangku sekolah formal. Mari juga kita sisihkan sedikit waktu kita untuk bercengkerama dengan alam agar hidup ini balance.
#indahnyahidup

IW, renungan akhir tahun 2014 dan awal tahun 2015.....

Sabtu, 16 Agustus 2014

AKAR POHON BREGAT

Nama pohon ini unik BREGAT....atau katanya sih sama dg pohon NOGOSARI.  Kalo memang  benar berarti sama dengan jenis pohon yang ada di dekat pesarean Eyang Ageng Henis yang ada di komplek makam Laweyan , Solo.
Let's see....beberapa waktu lalu saya pernah diberi sempalan dahan pohon itu oleh sang juru kunci makam Laweyan . Naaah....kalo yang saya dapatkan dari Rahtawu ini katanya akarnya. Unik ya.....akarnya ini saling terhubung antara satu dan lainnya ,  jadi tidak terputus. Untuk mendapatkan akar ini katanya gak gampang juga. Harus ekstra hati2 agar salah satunya tidak terpotong karena tidak semua akar berukuran sama besarnya. Hmmmm......apa maknanya? Apa ada dari teman2 yang tahu? Share donk ya.

17082014. Rahtawu...The Great Land.

AIR AKAR POHON KEMADHOH...OBAT MUJARAB

Air ini diambil dari akar pohon KEMADHOH....pohon ini katanya sangat gatal apabila terkena kulit kita. Saya sendiri belum pernah melihatnya secara langsung sih . caranya adalah dengan memotong akarnya lalu ditampung dengan plastik . Air akan menetes ke dalam plastik. Lalu kita bisa tampung ke dalam botol apa saja. Rasanya agak hambar. Orang2 di Rahtawu meyakini air ini bisa dipake untuk obat penyakit dalam  dengan cara meminumnya rutin. Katanya juga bisa untuk menumbuhkan rambut yang sudah rontok dan juga menyuburkannya dengan cara mengoleskan di kulit kepala secara rutin juga. Waaaaah....perlu dilabkan ini untuk mengetahui kandungan apa saja yang ada di dalamnya. Apa benar bisa berkasiat seperti penjelasan di atas. Atau hanya sugesti? Kalo ternyata hanya sugesti ....berarti bisa kita bayangkan betapa hebatnya kekuatan KEYAKINAN itu sebenarnya. Hmmmmm... .obat bisa gak  laku lhooh.

16082014. Rahtawu Village.

Rabu, 30 Juli 2014

BUAH ASEM DAN MINDEK

29072014.......seperti napak tilas cerita hidup saya 33 tahun lalu. Saat msh kelas 2 dan 3 SDN Jatisono 1, kec. Gajah, Kab. Demak. Bisa dibayangkan diusia sktr 7 tahun saya mempunyai hobi nyleneh bin aneh yaitu mencari buah asam matang yg jatuh dari pohonnya dan buah pohon trembesi di area pemakaman desa yg memang letaknya tak jauh dr sekolah saya waktu itu....ya...hanya sekitar 100m laah. saat bel berdentang tanda istirahat, saya lbh suka lari ke area pemakaman dari pada jajan es di sekolah. 

Yg ada di tangan sebelah kiri saya adlh buah asem matang yg jatuh dari pohonnya dan siap makan. Asem itu kecuuuuuuut bianget. Sebuah rasa yg kurang disuka manusia selain rasa pahit. Pohon asem ini banyak tumbuh di pinggir jalan raya dan yg lbh spesifik biasanya banyak tumbuh di area pemakaman. Kenapa ya di area pemakaman banyak ditanam pohon asem....ada yg tahu jawabannya? Apakah ada filosofi khusus, itu maksud saya. Apa specialnya asem? Buahnya sj kecuuuuut biangeeeeet. Asam matang itu dagingnya saja tipis, tapi rasanya....selangit. bijinya juga gak ada nikmatnya karena terlalu keras. Yg muda juga lbh kecut dan bikin air ludah mengucur. Asem muda itu biasanya saya makan dg gula atau garam. Bahkan daun asem yg muda dulu jg sering saya makan dg cara yg sama. Duluuuu...waktu SD saya sangat pintar memanjat pohon asam di dekat sekolah. Bahkan ta jarang disengat lebah di atas pohon sampe bengkak. Atau kena ulat yg gatelnya ampuuuuun dah. Tapi semua itu tdk bikin kapok malah makin saya nikmati.

Di tangan sebelah kanan adalah MINDEK....yaitu buah dari pohon trembesi. Bentuknya panjang hitam. Di dalamnya ada biji2nya kecil yg nantinya akan digoreng dg kwali tanah tanpa minyak sampe matang baru bisa dimakan. Untuk mengeluarkan biji dari dalam batang itupun sederhana hanya dg memukul2 sisi kiri kanannya dg batu atau palu hingga kulit hitam batang itu hancur. Setelah itu baru kita siangi biji2 coklat kecil itu. Baru kita goreng. Rasanya...? Tentu tdk seenak snack kota. Susaaaaah mendiskripsikan. Yg pasti untuk memakannya dibutuhkan ketrampilan tambahan untuk mengupas biji2 kecil itu. Kulitnya yg keras dan bijinya yg kecil jg agak bikin kita senewen kadang2.  Sama seperti saat kita mau makan kwaci semangka. 

Tapi itulah asyiknya. Perjuangan.....ya....perjuangan. untuk menikmati biji2 sekecil itu dg rasa yg tdk begitu enak saja dibutuhkan perjuangan beberapa tahap. Apa lagi untuk sebuah hasil yg layak untuk dinikmati. Sudah pasti dibutuhkan perjuangan yg lbh keras lagi. Dan ternyata dg perjuangan luar biasa pun blm tentu mendapat hasil maksimal. This is the point...! Kata Tuhan......SO WHAT GITU LHOO....suka2 gue mau kasih hasil brp.

Heheheh....pasrah deh. Itu lbh baik.

Di belakang saya itu adalah komplek pemakaman desa yg sangat sederhana. Di tengah sawah yg hijau dan asri. Di sinilah masa kecilku banyak terlewatkan dg sebuah cerita....tentang pertemuanku dg IBUKU dan pola pengasuhan unik IBUKU padaku. Sungguh luar biasa. Akan saya tulis di judul lain ttg hal ini.CHECK IT OUT....!


31072014, Kudus

Diselesaikan di RS sambil nungguin Bapak yg lagi sakit. 

Minggu, 20 Juli 2014

AIR JOLOTUNDO

JOLOTUNDO.....adalah sebuah tempat asri di lereng gunung penanggungan.  Konon tempat ini merupakan tempat Eyang Prabu Airlangga berdiam mendekatkan diri dg Sang Hyang Widi. Kisah lengkapnya silahkan ditanya ke mbah google ya. Saya hanya akan bercerita sedikit ttg air ini.
Beberapa tahun terakhir (kira2 4 tahun ini) saya memakai air ini untuk minum keseharian di rumah. Bahkan tiap kali harus keluar kota ataupun ke luar negeri saya selalu membawa bbrp botol kecil dlm bagasi. Tiada hari tanpa minum air Jolotundo deeeh. Jadi....mohon maaf...iklan air minum dalam kemasan atau galon tidak lagi mempan buat saya saat ini...hehehe. air dari mata air Jolotundo is the best lah. Katanya sih kandungan mineralnya tinggi. Wallahualam....saya sendiri tdk pernah uji lab. Tapi, fakta membuktikan selama 4 tahun meminum air ini , langsung tanpa rebus kami sekeluarga baik2 saja. Tidak pernah sakit perut. Semoga ke depan tetap sehat.
Tiap kali saya kesana untuk meditasi selalu sy bawa beberapa drigen besar untuk diisi airnya, untuk dibawa pulang. Selain untuk minum sendiri juga sy bagikan untuk teman2 yg mau. Tak jarang sampai saya bawa ke Demak untk Bapak dan keluarga lain. Bercanda saya menyebutnya sbg "AIR ZAM-ZAM JAWA".
hehehe....karena kalau mau minum air zam2 arab kan harus ke arab. Di indonesia sudah banyak yg palsu. Kalo air Jolotundo ini kapanpun kita mau selalu ada dan ASLIIII.....lho. debit airnya juga tdk berubah mesti kemarau panjang datang. Tetep beniiiiiiiiiiing dan mak nyeeeeees di badan. Perlu diketahui selain sumber mata air, ada juga tempat untuk mandi di sana. Ayooooo.....siapa mau mandi. Biar awet muda dan kinclong. Hehehe.....

Saya mempunyai pengalaman unik dg air ini akhir tahun lalu saat perjalanan ke China. Ide untuk membawa air ini ke dlm kabin pesawat tiba2 muncul last minute setelah saya menutup koper bagasi. Iseng siiih......sy siapkan 1 botol lagi seukuran 600ml. Trus sy bawa di tas jinjing yg notabene harus masuk kabin pesawat. Bismillaaaaaah......kataku berguman saat hendak melewati sensor barang di terminal internasional Juanda pagi itu. Woooooow........passed! Saya terdiam sambil minggir pelan2 agar muka bengongku tdk terlihat petugas saat itu. Pelan tapi pasti saya rengkuh tas itu dlm pelukan. Seakan tak percaya air itu bisa lewat sensor. Sedangkan bbrp teman saya banyak yg harus merelakan bbrp barang cairnya disita. Hmmmmm.....luaaar biasaaaaa.....
Saat dalam pesawat saya kembali berpikir bagaimana menjawab pertanyaan jika sampai tertangkap sensor di Hongkong nanti karena pesawat yg saya tumpangi harus transit di negeri mungil itu. Hmmmm.....woooow.....ketemu dah. Sepenggal kalimat ini bisa dipake untuk di Hongkong dan Shanghai nanti....."SAYA MEMBAWA BOTOL KOSONG DARI INDONESIA DAN AIR INI SAYA DAPATKAN DARI PRAMUGARI DI DALAM PESAWAT. JIKA HARUS DISITA, SILAHKAN SAJA, TAK ADA MASALAH BAGI SAYA"
Duuueeeeerrrrrr......doooooorrrrrrrr. saya pun berlatih ngomong itu agar tdk kelihatan kaku nanti ketika ditanya. Sambil berusaha menenangkan raut muka saya tentunya. Hmmmm......jadi berbohong nih  demi "tugas" kecil ini. Hehehe....
Waktu landing tiba. Semua turun dr pesawat tak terkecuali yg transit karena waktu transit 3 jam jd bisa jalan2 belanja atau sekedar window shoping sj. Menunggu pemeriksaan membuat jantung berdebar agak cepet. Bagaimana tidak? Dg sebotol air 600ml di dalam tas mengharap lolos dr sensor superketat bandara Hongkong. Apa tidak salah? Dag....dig...dug.....3...2...1.....pelan2 tas sy masukkan pintu sensor. Panas dingin ujung kaki dan tangan tangan uadeeeem.
Dan......PASSED..! Tas jinjingku itu berjalan dg mulus di atas conveyor sensor bandara itu hingga keluar lorong dan mendarat dg manis di ujung conveyor tersebut....dan tak ada komentar maupun pertanyaan dari petugas bandara tentang sebotol air itu. Juga perintah untuk mengeluarkan air tersebut.
Singkat cerita, air itupun lolos sampai ke daratan China tepatnya di Shanghai, tempat pertama landing.
Sungguh luar biasa. Sampai sekarangpun saya masih tersenyum mengingatnya. Bukan akal dan nalar yg bisa dipakai mencerna. Siapa yg ada di belakang semua ini. Tak lepas dr urusan tetangga fisik yaitu metafisik. Sy mungkin hanya utusan kecil para leluhur untk membawa air itu sampai dataran China. Mungkin iya....mungkin tidak. Hehehe....tapi dg keyakinan dan kebanggaan saya sampaikan ke leluhur dataran China bahwa ada kiriman air dari Jawa dwipa.
Akhirnya air itu sy  bagi ke bbrp tempat diantaranya Shanghai , Tianjin, Beijing di Temple of Heaven dan di Great Wall of China. Horeeeeeeee..........air Jolotundo goes to China.....finally....done!
Terima kasih Eyang2 leluhur yg sudah mendukung dan mempercayakan tugas mulia ini pada saya. Tentang maksud dan tujuannya , saya tidak berani bertanya dan  tidak pada kapasitas berkomentar.
Yang pasti.......semua ini indah adanya....
THANK'S GOD........LUV U PUUUUULLL DAAAAAH.

30072014, Kudus
Kutulis saat di RSUD Kudus, sambil menunggu Bapak rawat inap.

Minggu, 22 Juni 2014

BUNDA EUIS SAEDAH

Namanya Bunda Euis. Begitu aku memanggilnya. Beliau adlh Dirjen IKM Kementrian Perindustrian RI. Baiiik sekali. Sudah sprti ibu sendiri buatku.
Thank's Mom for caring, loving and supporting me.
Smg Tuhan melindungimu selalu....
Big hug and miss u always Mom.